Bus Suroboyo

Bus Suroboyo Bayar Pakai Sampah, Yang Bener Saja

Bus Suroboyo Bayar Pakai Sampah, Yang Bener Saja – Hola Sahabat Filia, kalian sudah tahu ‘kan kalau di setiap kota pasti ada angkutan umum yang mengantarkan kita dari satu daerah ke daerah lain dalam kota itu? Sebut saja bus trans, angkot, sampai moda transportasi berbasis online yang sedang in saat ini. Nah begitu juga dengan di kota Surabaya. Mereka juga punya bus kota dengan berbagai rute pilihan yang mudah ditemukan. Armada bus terbaru adalah bus suroboyo yang baru saja diluncurkan Ibu Tri Rismaharini pada tanggal 7 April 2018 di Gedung Siola. Lalu apa saja yang menarik dari armada bus ini?

Pengalaman Pertamaku Ditolak Bus Suroboyo

Aku mau curhat dong. Minggu lalu, tepatnya tanggal 26 Desember 2019, aku berkunjung ke Surabaya. Yah, meski hanya persinggahan sementara sebelum kemudian aku menyebrangi Selat Madura. Kebetulan seorang sahabat yang merantau ke Pulau Sumatra sedang mudik ke kampung halaman. Jadi, ku pikir sekali dayung dua pulau terlampauilah. Aku bisa mudik ke Madura sekalian bersua dengan sahabat lama. Bukankah itu rencana yang sangat menyenangkan?

Tentu saja kalian akan berpikiran begitu. Aku pun demikian awalnya, yah sebelum aku mendapat pengalaman yang sangat memalukan.

Begini ceritanya, aku bertolak dari Semarang dengan kereta Kertajaya 256 pukul 21.06 WIB dan tiba di Surabaya pukul 01.24 WIB. Tentu saja, aku nggak bisa langsung tancap ke Madura. Angkutan umum sudah pasti nggak ada lagi di jam segitu. Kalau biasanya, aku akan menunggu pagi di stasiun bersama segelintir orang, kali ini aku memutuskan mencari tempat sekedar melepas penat. Apalagi dengan kondisi badan yang kurang fit. Sehingga terpilihlah Hotel Tanjung yang terletak di Jalan Panglima Sudirman No. 43-45, Genteng sebagai tempat persinggahan sampai pagi menjelang.

Singkat cerita, setelah tidur sejenak dan menyelesaikan sarapan pagi di hotel, aku pun bergegas melanjutkan perjalanan. Kebetulan nggak jauh dari Hotel sekitar 5 meter, aku menemukan halte bus kota. Ku pikir daripada menggunakan angkutan online ke Terminal Purabaya dengan tarif di atas 20.000 an, aku memilih menggunakan bus kota yang ongkosnya lebih murah. Bahkan tidak mencapai setengah dari ongkos ojek online. Lumayan lebih irit, begitu ku pikir saat itu.

Tak lama menunggu, sebuah bus kota berwarna merah berhenti di halte itu. Lagi-lagi ku pikir, wah surabaya punya armada bus baru. Pasti bersih dan nyaman nih. Saat ku tanya kondektur yang ternyata adalah seorang gadis berhijab, bus ini benar menuju ke Terminal Purabaya. Maka aku nggak banyak mikir, langsung naik dan hendak mencari kursi yang memang kebetulan saat itu sebagian besar masih belum terisi penumpang. But guest what, pintu bus sama sekali nggak cepat tertutup sodara-sodara. Busnya juga nggak segera berangkat. Kondekturnya berdiri tak jauh dari pintu di dekatku yang memang belum duduk saat itu.

“Kakak bawa botol bekas?” tanya gadis kondektur manis itu.

Dengan polosnya ku jawab nggak saat itu. Lalu dia mulai menjelaskan bahwa pembayaran bus suroboyo yang dia kondekturi adalah dengan menggunakan botol bekas. Aku yang masih kebingungan belum juga “ngeh” dengan maksud penjelasan gadis itu. Sampai akhirnya …

“Maaf, kakak tidak bisa naik bus ini. Kakak tunggu bus kota saja ya!” pungkas gadis itu sambil menghelaku keluar dari dalam bus.

Astaga, aku ditolak bus kota. Rasanya aku mendengar hatiku ngedumel saat itu, “Naik bus kota bayar pakai sampah. Yang benar saja.” Kalau tahu begitu ‘kan aku pasti bawa botol bekas minumku dari hotel. Lumayan naik bus baru yang bersih gratisan.

Pengalaman memalukan itu tentu membekas banget pada ku. Jangan heran kalau kemudian aku mulai mencari tahu detail tentang bus yang sudah menolakku. Duh, aku jadi berasa nggak cantik. Lihat saja, bahkan aku ditolak sama bus.

Jadi apa saja keunggulan bus suroboyo yang sudah menolakku itu?

Keunggulan Bus Suroboyo

Pembayaran Menggunakan Sampah Plastik

Cara Pembayaran Bus Suroboyo
Sumber : www.media.bening

Pertama, alih-alih membayar pakai uang bus suroboyo meminta bayaran pakai sampah plastik. Bisa bayangkan, orang-orang akan mulai mengumpulkan sampah demi naik angkutan umum secara gratis. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi sampah plastik yang jadi permasalahan serius. Sampah yang dikumpulkan dari hasil pembayaran penumpang akan disetor pada Bank Sampah untuk kemudian didaur ulang.

Tetap Berjalan Meski Traffic Light Menyala Merah

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya menuturkan di sela soft launching Bus Suroboyo di Gedung Siola bahwa bus ini aman saat melintas. Artinya transportasi massal ini terintegritas dengan sistem pengaturan lalu lintas jalan atau dengan kata lain lampu akan menjadi hijau jika bus ini melintas. Hal itu juga aku lihat, karena kebetulan tak jauh dari halte ada traffic light. Meski jalanan saat itu sedang sepi dan tidak banyak kendaraan, bus membuat lampu merah berubah menjadi hijau saat melintas. Mirip-mirip kayak di Jepang. Ceileh, berasa pernah ke Jepang akutu. Hehehe…

Selain itu, ada kamera CCTV di bagian dalam dan luar bus. Penumpang jadi merasa aman pasti dengan itu.

Ramah Bagi Penyandang Difabel, Lansia dan Ibu Hamil

Saat aku menaiki Bus Suroboyo, aku merasakan betul desain yang low entry. Jadi, bus itu tinggi tapi pintu masuknya rendah, sejajar dengan pedestrian. Pokoknya aku nggak repot saat naik meski aku pakai gamis. Selain itu, seperti yang aku bilang tadi, mbak kondekturnya ramah meski dia menolakku naik. Aku nggak akan sangsi jika dia sigap untuk membantu para penumpang difabel menaiki armada mereka.

Bus Suroboyo Ramah Diffabel
Sumber : www.sentraholidays.com

Waktu Operasional Bus Suroboyo

Bus Suroboyo mulai beroperasi pada pukul 06.00 WIB sampai dengan pukul 22.00 WIB. Adapun rutenya adalah sebagai berikut :

Rute Bus Suroboyo
sumber : www.busnesia.com

Selain itu, seperti di bus trans pada umumnya, Bus Suroboyo juga ada pemisahan area untuk meminimalisir tindak pelecehan seksual dalam bus. Kapan-kapan ketika berkunjung ke Surabaya lagi, aku akan pastikan membawa serta sampah botol plastik yang aku temukan. Minimal tiga biji ajalah kalau pakai botol bekas air mineral ukuran 500 ml. Biar apa? Biar aku bisa naik bus yang nyaman secara gratis. Hari gini mau menyia-nyiakan yang gratis? Yang benar saja.

With Love

Yuni Bint Saniro

23 comments

  1. Wow keren bangettt… Jakarta udah ada blm ya bus kaya gini? Kudet deh jarang naik transportasi publik maklum, hehe… Semoga busnya terawat dgn baik ya

  2. Pantas saja Bu Risma sama DPRD Jakarta diminta pindah ngurusin Jakarta. Karena masalah sampah sudah tertangani dengan baik di Surabaya ini. Dan ini mesti dicontoh oleh daerah lain. Termasuk naik bis yang bayarnya pakai sampah ya Mbak Yuni:)

  3. Wah keren banget ini Mbak programnya ya. Naik bus cuma bayar pakai sampah. Pasti banyak yang ngantri ini ya Mbak Yuni. Apalagi busnya baru. Jadi tertarik deh Mbak. Ramah bagi ragam penumpang pula.

  4. Waaa ini baru green bus! Bis nya peduli lingkilungan ehehe.. Ternyata walaupun bayarnya pakai sampah, kualitas bisnya tetep oke. Ramah untuk difabel pula.
    Di sekolah saya pernah mengelola untuk menukar sampah jadi buku bacaan. Perlu usaha bgt untuk menyadarkan bahwa memilah sampah itu penting. Apalagi sampah plastik.
    Cita cita saya itu sebenarnya mau punya sekolahan atau tempat les yg mbayarnya cukup dng sampah khusus untuk anak yatim atau dari keluarga dhuafa

  5. Hai Mbak, aku juga beberapa kali dalam setahun ke Surabaya tapi dalam rangka kerja. Nah, kepengen nih coba naik Suroboyo Bus. Belum pernah soale padahal bolak-balik kemari, hihihi … Nah, botol bekasnya itu ada ketentuan nggak sih ukuran berapa dan berapa banyak? Khawatir ditolak juga, gitu. Biarlah dirimu aja yang ditolak, aku jangan … Wkwkwk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *