Indonesia Website Awards

Penyakit Kusta Ada Sejak 600 SM, Ke Mana Para Penyandangnya Harus Berobat?


Penyakit Kusta

Penyakit Kusta – Stigma negatif dan diskriminasi pada penyandang kusta itu benar adanya. Di kampung saya sendiri, banyak orang yang memilih membuang makanan yang diberikan oleh keluarga penyandang kusta. Katanya takut tertular.
Saya yang waktu itu masih kecil, jadi ikut takut juga. Apalagi saya sering mendengar kisah mengerikan. Kisah yang menceritakan seseorang yang melanggar sumpahnya sendiri. Lalu ia terkena kusta. Wajahnya berubah menyeramkan sampai orang tersebut tak lagi berani menampakkan diri.
Sekarang, Alhamdulillah kasus kusta di kampung saya tak lagi terdengar. Keluarga para eks penyandang kusta juga sudah beraktifitas seperti biasa. Tapi tetap saja, orang masih menganggap kusta adalah penyakit kutukan. Padahal penyakit ini bisa disembuhkan dan tingkat penularannya sangat rendah.

Menilik Sejarah Penyakit Kusta

Kalau teman-teman mau membaca sejarah penyakit kusta. Teman-teman akan menemukan fakta menarik. Rupanya penyakit kusta ditengarai sudah ada sejak tahun 600 SM, loh.
Pada masa tersebut, terdapat tulisan dalam bahasa India di sebuah dokumen Papirus Mesir. Tulisan di Papirus ini menggambarkan penyakit yang ciri dan gejalanya mirip kusta.
Oh ya, teman-teman tahu Papirus tidak? Papirus adalah tanaman air. Merupakan bahan utama pembuatan kertas pada zaman kuno. Papirus ini banyak tumbuh di sekitar lembah sungai Nil.
Catatan tertulis lainnya juga ditemukan di Eropa. Munculnya kasus kusta di benua ini tertuang dalam sebuah catatan Yunani Kuno.
Pertama, kasus kusta muncul setelah kepulangan Alexander Agung dari India. Alexander Agung sendiri merupakan seorang raja dari Kekaisaran Makedonia. Sebuah kerajaan yang terletak di timur laut Yunani.
Kedua, pada tahun 62 SM, kasus kusta muncul bersamaan dengan pulangnya pasukan Pompeii –Kota Kuno pada masa Kekaisaran Romawi– dari Asia kecil atau Anatolia.
Barulah pada tahun 1873, penyebab kusta ditemukan untuk pertama kalinya. Atas jasa seorang dokter dari Norwegia bernama Mycobacetricum leprae. Karenanya, selain lepra, nama lain dari penyakit kusta adalah hansen.
Lalu bagaimana dengan sekarang? Apakah penyakit kusta sudah hilang? Sayangnya tidak teman-teman.

Sejarah penyakit kusta

Data Terbaru Penyakit Kusta di Indonesia

Per Januari 2021, terdapat 16.704 kasus kusta baru di Indonesia. 9,4% dari angka tersebut terjadi pada anak-anak. Sementara target Pemerintah Indonesia inginnya maksimal hanya 5% saja.
Fenomena ini harus menjadi perhatian kita bersama. Sebab, artinya Indonesia belum bebas dari Kusta. Serta angka kasus baru pada anak masih cukup tinggi. Melampaui target nasional.
Pencegahan kasus kusta baru anak sebenarnya sudah terintegrasi dengan program UKS. Pemeriksaan rutin dari Puskesmas ke sekolah-sekolah termasuk untuk mendeteksi adanya kasus kusta anak se dini mungkin. Sayangnya, program ini sedikit terhambat sejak adanya pandemi Covid-19.
Buat teman-teman yang punya anak atau keponakan yang masih usia sekolah. Wajib banget berperan aktif. Turut serta memantau mereka agak terbebas dari kusta.
Saya berdoa, semoga keluarga tema-teman sehat dan jauh dari kusta. Tapi jika menemukan gejala kusta pada mereka. Jangan segan untuk memeriksakannya ke Puskesmas terdekat.

Ayo Lebih Dekat dengan Kusta!

Kusta masuk kategori penyakit kronis. Yaitu penyakit yang berlangsung dalam waktu lama. Penyakit ini juga menular. Tapi teman-teman tak usah khawatir. Tingkat penularannya hanya 5% saja. Jadi 95% orang di dunia ini sebenarnya kebal terhadap kusta.
Tapi kenapa penyakit ini begitu ditakuti? Itu lantaran efek yang ditimbulkan sangat luas. Tak hanya dari sisi medis. Namun juga merembet ke masalah sosial, psikologis, juga ekonomi.
Penyakit kusta harus terdeteksi sejak dini. Agar tak menimbulkan kecacatan permanen. Karena itu, kita semua perlu nih untuk tahu lebih dalam soal kusta. Yuk kita pelajari bareng-bareng.

1. Penyebab Penyakit Kusta

Penyebab utama kusta adalah infeksi bakteri bernama Mycobactericum leprae. Menyerang susunan syaraf tepi, kulit, dan organ tubuh lainnya.
Masa inkubasi bakteri ini sangat lama, sekitar 5 tahun. Oleh karena itu, banyak yang tak menyadari kalau dirinya terkena kusta. Sehingga banyak penyandang kusta yang datang berobat sudah dalam keadaan cacat.
Kalau sudah begini, pengobatan akan lebih sulit. Kecatatan bisa jadi permanen dan berakhir dengan amputasi.

2. Ciri-Ciri dan Gejala Penyakit Kusta

Mulanya, bakteri Mycobactericum leprae akan menyerang kulit. Menimbulkan bercak-bercak putih atau merah seperti panu. Area kulit di sekitar bercak-bercak tersebut mati rasa. Lantaran syaraf tepi yang tak berfungsi dengan baik.
Pengobatan pada masa ini bisa sangat membantu. Sebab penyembuhan hanya membutuhkan waktu antara 6-12 bulan saja. Jika tidak, maka akan timbul gejala-gejala yang lebih berat seperti berikut:

  • Ada benjol-benjol pada wajah dan otot wajah menegang. Biasa disebut dengan wajah singa (facies leomina).
  • Tangan mengalami claw hand (menekuk ke bagian telapak tangan)
  • Timbul luka yang cukup besar dan dalam di area kaki.
  • Kaki berubah berbentuk menjadi seperti perahu.

Jika gejala-gejala berat ini sudah terjadi. Perbaikannya akan sulit. Tangan dan kaki bisa sampai diamputasi karena mengalami kerusakan yang parah. Proses penghancuran bakteri dalam tubuh dengan obat juga butuh waktu bertahun-tahun. Bahkan bisa seumur hidup.

3. Cara Penularan

Sampai saat ini, diketahui bahwa bakteri Mycobactericum leprae menular dengan dua cara. Pertama melalui cairan dari hidung. Kedua melalui kontak kulit secara langsung.
Bakteri Mycobactericum leprae akan ikut terbawa ke udara saat penyandang kusta bersin. Tanpa sengaja, bakteri tersebut terhirup oleh mereka yang sehat atau mereka yang rentan.
Namun bakteri Mycobactericum leprae baru bisa menginfeksi tubuh jika kontak antara yang sakit dan yang sehat terjadi berulang kali.
Jadi, kalau teman-teman bertemu dengan penyandang kusta. Tak perlu takut. Tak usah pula menunjukkan sikap risih. Sekali lagi, kusta tidak mudah menular.

Penyebab kusta

Kampung Kusta di Indonesia

Penyakit kusta erat kaitannya dengan stigma negatif. Sejak lama, penyakit ini dianggap sebagai penyakit kutukan. Padahal tidak sama sekali.
Akibatnya banyak sekali diskriminasi yang dialami oleh penyandang kusta. Diabaikan dan dikucilkan oleh masyarakat sekitar.
Hal ini sampai memicu hadirnya kampung-kampung kusta di Idonesia. Biasanya kampung-kampung ini terletak di dekat panti rehabilitasi atau pusat kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas.
Di sisni saya akan menceritakan dua kampung saja. Saya mengetahui dua Kampung Kusta ini dari google.

1. Kampung Kusta Tuban

Sejarah kampung kusta di Dusun Nganget, Desa Kedung Jambe, Tuban ini cukup unik. Terletak di sebuah perbukitan dan di kelilingi hutan. Kabarnya hutan ini sempat gundul namun sudah dilakukan reboisasi.
Kampung Kusta Dusun Nganget sudah adak sejak 1935-1946. Belanda yang membangunnya. Memasuki tahun 1947, kampung ini diambil alih oleh Rumah Sakit Kusta Nganget, Tuban.
Para penyandang kusta yang telah sembuh sebenarnya sudah diperbolehkan pulang sejak tahun 1985. Tapi banyak yang memilih untuk menetap.
Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai petani di lahan milik Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Sebagian yang lain sebagai pedagang, tukang kayu, dan pengusaha mebel.
Saat ini, di Kampung Kusta Dusun Nganget terdapat panti rehabilitasi bagi para eks penyandang kusta. Unit Pelaksana Teknis Rehabilitasi Sosial Bina Lara Kronis atau UPT RSBLK Tuban.
Keberadaan panti ini tentu masih dibutuhkan oleh masyarakat sekitar. Mengingat penyakit kusta bisa kambuh kembali.

2. Kampung Kusta Tangerang

Jauh dari Jawa Timur, di salah satu pojok Kota Tangerang. Ada juga kampung kusta. Namanya Kampung Kusta Sinatala. Terletak di Kelurahan Karangsari, Kota Tangerang.
Kampung ini berdiri di dekat Rumah Sakit Sinatala. Sejak dulu rumah sakit ini sudah menjadi tempat berobat bagi penyandang kusta.
Berdiri tahun 1981 di atas lahan milik Pemerintah Indonesia. Memang diperuntukkan bagi penyandang kusta yang harus rawat jalan. Antara sebulan sampai dua bulan sekali.
Namun karena banyaknya penyandang kusta yang tak di terima di tempat asal. Terpaksa mereka menetap di Kampung ini.
Saat ini, Kampung Kusta Sinatala sudah sangat ramai. Penghuninya bukan lagi hanya penderita tapi juga non penderita. Mereka hidup berdampingan dengan rukun.

Layanan Kesehatan Bagi Penyandang Penyakit Kusta

Apakah semua penyandang kusta harus pergi ke kampung kusta? Tentu tidak. Pemerintah sebenarnya sudah melakukan upaya untuk mencegah dan menanggulangi penyakit kusta. Berikut beberapa di antaranya:

  • Membuat program Pencegahan dan Penanggulangan (P2) Kusta yang masuk dalam Program Prioritas Nasional (Pro-PN).
  • Menggelontorkan sejumlah dana ke daerah-daerah. Maka setiap daerah sebenarnya wajib melakukan kegiatan sosialisasi, advokasi, pelatihan, dan upaya deteteksi dini penyakit kusta.
  • Melakukan deteksi dini kusta pada anak-anak melalui program UKS.
  • Mengeluarkan payung hukum. Salah satunya Kepmenkes RI Nomor 308 Tahun 2019. Juga Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 11 Tahun 2019.

Sekarang masalahnya, siapa pun yang merasa mengalami gejala awal Kusta, baiknya harus pergi ke mana?
Mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 11 Tahun 2019. Para penyandang kusta bisa pergi ke Puskesmas terdekat. Untuk mendapatkan diagnosis, pemeriksaan, dan pengobatan secara gratis.
Puskemas telah ditetapkan sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Apabila nanti harus ada penanganan khusus. Maka Puskesmas bisa memberikan rujukan ke layanan kesehatan lainnya.
Di Indonesia, pengobatan kusta menggunakan Multi Drug Therapy (MTD). Yakni pemberian dua atau lebih obat kusta. Pengobatan ini tak bisa hanya sekali. Karenanya, nanti pihak Puskesmas akan memantau perkembangan penyandang kusta yang telah berobat sampai sembuh.
Penyandang Kusta tak boleh berhenti minum obat. Sebelum dokter menyatakan dirinya benar-benar sembuh. Jika konsumsi obat dihentikan bisa membuat bakteri resisten terhadap obat. Proses penyembuhan akan semakin sulit dan semakin lama.

layanan kesehatan kusta

Penyandang Penyakit Kusta Perlu Melakukan Perawatan Diri

MTD pada kusta hanya bersifat membunuh bakteri dalam tubuh penderita. Namun tak bisa mengobati kecacatan yang ditimbulkan.
Karenanya, selain minum obat. Penyandang kusta harus melakukan perawatan diri. Agar kecacatan yang terjadi tak semakin berat.
Perawatan diri harus dilakukan seumur hidup. Bisa dilakukan di rumah secara mandiri dengan prinsip 3M. Memeriksa mata, tangan dan kaki secara teratur. Melindungi mata, tangan, dan kaki dari trauma fisik. Serta Merawat diri.
Lebih jelasnya, berikut langkah-langkah perawatan diri bagi penyandang kusta!

1. Perawatan Diri Kusta untuk Mata yang Tak Bisa Berkedip

Benda-benda kecil seperti debu, goresan kain dan kertas, rambut, asap bisa masuk ke dalam mata. Lakukan pemeriksaan secara rutin apakah di mata ada benda-benda tersebut.
Gunakan kacamata dan jangan bekerja di tempat yang kotor. Cuci mata dengan air bersih secara rutin. Serta tutup mata dengan kain basah yang lembut saat tidur.

2. Perawatan Diri Kusta untuk Tangan dan Kaki Yang Mengalami Mati Rasa

Selalu pastikan bahwa tidak ada luka sekecil apapun di bagian tangan dan kaki. Jika ada, maka tangan dan kaki harus diistirahatkan sampai luka sembuh.
Gunakan sarung tangan dan alas kaki yang tebal. Serta jangan mengerjakan pekerjaan yang bisa melukai tangan dan kaki.

3. Perawatan Diri Kusta untuk Kulit Tangan dan Kaki Kering

Cek setiap hari, apakah ada kulit kering dan pecah-pecah baru di bagian tangan dan kaki. Rendam tangan dan kaki dalam air dingin selama 20 menit setiap hari. Lalu olesi dengan minyak agar kulit tangan dan kaki terjaga kelembabannya.

4. Perawatan Diri Kusta untuk Jari Bengkok

Jari-jari yang mulai menunjukkan gejala bengkok harus segera ditangani. Jangan sampai sendi-sendi menjadi kaku dan otot-otot jari memendek. Hal ini bisa menyebabkan jari-jemari kaku dan terluka.
Lakukan perawatan dengan meluruskan sendi-sendir secara perlahan setiap hari. Agar kekakuan jari yang terjadi tak semakin parah.

5. Perawatan Diri Kusta untuk Kaki Semper

Kaki semper adalah kaki yang otot-ototnya mulai melemah sehingga terlihat seperti orang lumpuh. Penyandang kusta yang kakinya semper bisa melakukan beberapa latihan berikut setiap hari.
Meluruskan kaki dan menariknya ke bagian ujung tubuh. Lakukan gerakan push up di tembok. Ikat punggung kaki pada tali karet yang sebelumnya terikat ke tiang. Tarik kaki dan tahan, lakukan hal ini berulang-ulang.

6. Perawatan Diri Kusta untuk Luka Borok

Luka yang diderita oleh penyandang kusta bisa sembuh sendiri. Caranya dengan diistirahatka selama beberapa minggu sampai luka menutup.
Cuci luka dengan sabun. Rendam kaki yang kena borok dalam air selama 20-30 menit. Gosok bagian pinggir luka dengan batu. Oleskan minyak pada bagian yang tidak luka. Lalu balut dan istirahatkan.
Tapi ingat ya. Semua rangkaian perawatan diri ini harus tetap dalam pengawasan tenaga medis. Konsultasikan dan laporkan semua perkembangan dari perawatan diri yang telah dilakukan.
Kalau teman-teman mau mengetahui perawatan diri yang lebih lengkap. Teman-teman bisa membaca Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan (P2) Kusta.

Kesimpulan

Kini teman-teman sudah tahu. Bahwa kusta bukanlah penyakit kutukan. Meski menular, namun tingkat penularannya hanya 5% saja.
Jika teman-teman punya saudara, tetangga, dan kenalan yang memiliki gejala kusta. Jangan segan-segan untuk membantu.
Beri dukungan agar mereka tak malu dan mau melakukan pengobatan ke Puskesmas terdekat. Serta beri semangat agar mau melakukan perawatan diri secara rutin.
Yuk, sambil menyambut Kemerdekaan RI yang ke 76 dengan berkomitmen untuk turut serta mencegah dan menanggulangi penyakit kusta!

Sumber Referensi

Referensi Pembahasan tentang Sejarah Kusta:
Wikipedia dan E-book: Kusta, Epidemiologi Aplikatif (repository.unmul.ac.id/bitstream/handle/123456789/6027/buku%20Sis%202020%20kusta%20edit.pdf?sequence=1&isAllowed=y)

Referensi tentang Data Terbaru Penyakit Kusta:
(kemkes.go.id/article/view/21013000001/prevalensi-kusta-pada-anak-tinggi-ini-upaya-kemenkes.html)
(suara.com/health/2021/01/30/152659/hari-kusta-sedunia-2021-kasus-kusta-anak-di-indonesia-sulit-dideteksi

Referensi Pembahasan tentang Kusta, Layanan, dan Perawatan Diri:
1. E-book/ E-Magazine (Diakses dari aplikasi I-Pusnas):

  • Awas Kusta Mengintai Generasi Muda –www.tempo.com
  • Kusta (Kumpulan Dokumentasi Tentang Penyakit Kusta)

2. E-book/ E-Magazine/E-Jurnal/E-Skripsi

  • Kusta, Epidemiologi Aplikatif 9 (repository.unmul.ac.id/bitstream/handle/123456789/6027/buku%20Sis%202020%20kusta%20edit.pdf?sequence=1&isAllowed=y)
  • Pusat data dan Informasi Kemenkes RI (pusdatin.kemkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/infodatin/infoDatin-kusta-2018.pdf)
  • Buku Panduan Kusta Frambusia (dinkes.jatimprov.go.id/userimage/dokumen/BUKU%20PANDUAN%20KUSTA%20FRAMBUSIA%20-%20%20PKK.pdf)
  • Pengaruh Pelatihan Perawatan Diri Berbasis Keluarga Terhadap Praktik Perawatan Diri Penderita Kusta (lib.unnes.ac.id/23383/1/6411411177.pdf)

3. Kepmenkes RI Nomor 308 tentang PNPK Kusta
4. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 11 Tahun 2019

Referensi Kampung Kusta
1. Kampung Kusta Tuban

  • jtvbojonegoro.com/2020/10/melihat-wisata-dan-tempat-rehabilitasi.html
  • solider.id/baca/4209-sekelumit-catatan-ragam-persoalan-sosial-kampung-kusta
  • bk3sjatim.org/komunitas-eks-penderita-kusta-dusun-nganget/

2. Kampung Kusta Tangerang

  • nusantara.medcom.id/jawa-barat/peristiwa-jabar/PNg5qq8k-cerita-dari-kampung-eks-kusta-tangerang
  • megapolitan.kompas.com/read/2019/09/09/10395851/tak-sesuram-bayangan-bagaimana-penampakan-kampung-kusta?page=all
  • megapolitan.kompas.com/read/2019/09/12/07340011/mereka-yang-menetap-di-kampung-kusta-karena-penyakitnya?page=all

Have any Question or Comment?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Author

About Me Filia Suka Nulis

Filia Suka Nulis

Seorang yang suka menulis dan menghayal. Korespondensi bisa melalui email admin@filiasukanulis.com ya, Temans.


Promotion

Another Side

KEB

Kumpulan emak blogger
Kumpulan Emak Blogger

Komunitas BloggerHub

BPN

Blogger perempuan
blogger perempuan

Gandjel Rel

Logo Gandjel Rel
Blogger Gandjel Rel

PAS Blogger

joeragan-artikel
joeragan-artikel