Sepenggal Duka di Hari Nan Fitri


Sepenggal Duka di Hari Nan Fitri – Gema takbir berkumandang dari pengeras suara di masjid yang terletak tak jauh dari rumah. Ramadhan telah berlalu, semoga meninggalkan jejak kebaikan dalam setiap langkah kehidupan di hari mendatang. Hingga kita bisa bertemu kembali di bulan penuh Rahmat dan Ampunan tahun depan. Tentu banyak sekali suka yang akan terlukis.

Hari ini orang-orang dengan riang bersiap-siap. Mereka mengenakan pakaian terbaik dan melangkahkan kaki menuju masjid atau lapangan tempat dilaksanakannya sholat idul fitri. Sungguh menjadi moment yang sangat membahagiakan jika semua keluarga bisa bersama.

Tapi, bagaimana mereka yang tidak bisa berkumpul dengan keluarga?

Sang ayah yang harus berada jauh sekali dari kampung halaman. Kepala keluarga itu harus rela berjauhan demi mencari nafkah untuk keluarga. Dia harus puas hanya merayakan hari kemenangan ini hanya dengan komunikasi jarak jauh dengan telpon. Pun demikian dengan sang anak lelaki nomer dua yang memilih meninggalkan kampung halaman untuk menemukan jati diri. Masihkah terlukis suka di hari itu?

Tentu keadaan ini menorehkan sepenggal duka di hari nan fitri. Disaat banyak keluarga merayakan hari kemenangan, hari berbuka setelah berpuasa sebulan lamanya bersama-sama, kami harus merayakan hari itu secara terpisah. Ayah berada nun jauh di Indonesia bagian timur, adek lelaki berada di negeri tetangga. Tinggallah kami di kampung halaman.

Namun tak mengapa. Jaman sudah cukup canggih. Teknologi sudah maju. Keadaan jauh tidak menjadi sebuah alasan bagi kami untuk tidak bisa berkumpul. Toh sudah ada video call, voice chat atau apapun lah yang membuat kami serasa dekat. Dan itulah yang kami lakukan. Ayah menelpon kami di pagi hari lebaran, bergantian mengucapkan permohonan maaf. Disusul dengan dering telpon dari negeri seberang yang ternyata adalah anak lelaki nomer dua di keluarga kami.

Meski tidak bisa berkumpul, rasanya dengan komunikasi jarak jauh ini sudah bisa mendekatkan kami. Terima kasih pada kemajuan teknologi.

Minal aidzin wal faidzin teman – teman. Mohon maaf lahir dan batin.

With Love

Yuni Bint Saniro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *