Sobat Filia pernah bepergian sendirian nggak? Waktu itu, sempat mendengar mitos solo traveling yang serem-serem nggak, Sob? Yang bikin nyali ciut dan malah nggak jadi pergi?
Sama, cuy. Aku pun dulu begitu.
Tiap kali melihat foto orang yang bepergian sendirian, aku cuma bisa merasa kagum sekaligus heran. Kayak, kok bisa sih mereka berani? Nggak takut kenapa-kenapa di jalan? Nggak khawatir kesepian? Gimana kalau tersesat coba?
Yang ada di kepalaku waktu itu, solo traveling sudah kayak aktivitas yang hanya cocok untuk orang yang super duper berani, mandiri, dan punya rasa percaya diri yang setinggi langit di angkasa.
Yang cemen dan minderan minggir dulu deh!
Padahal setelah baca banyak pengalaman para traveler dan mencari informasi lebih jauh, aku mulai menyadari bahwa nggak sedikit ketakutan tentang solo traveling yang sebenarnya berasal dari mitos atau asumsi yang terus berulang.
Maksudku, bukan berarti semua kekhawatiran itu salah ya. Tapi, seringkali kenyataannya nggak seseram yang kita bayangkan.
Kalau kalian lagi mempertimbangkan untuk coba solo traveling, aku yakin beberapa mitos berikut juga pernah muncul di pikiran kalian.
Mitos 1: Solo Traveling Itu Pasti Berbahaya
Kalau membahas solo traveling, mitos ini mungkin yang paling sering muncul.
Bahkan sebelum kitanya benar-benar berangkat, sudah banyak tuh peringatan dari orang sekitar. Mulai dari kekhawatiran terjadi sesuatu yang nggak kita inginkan saat perjalanan sampai risiko bahaya kalau pergi sendirian.
Jujur saja, dulu aku juga sempat berpikir begitu.
Gimana kalau aku tersesat di tempat yang belum pernah kukunjungi? Gimana kalau tiba-tiba ada masalah dan nggak ada teman yang bisa kumintai bantuan? Dan masih banyak lagi pertanyaan sejenis yang bikin aku jiper mau solo traveling.
Karena itulah, aku dan banyak orang lainnya menganggap solo traveling identik sama risiko yang lebih besar ketimbang bepergian bareng teman atau keluarga.
Tapi, apa emang seperti itu?
Faktanya, Risiko Selalu Ada, Tapi Bisa Dikelola
Setelah baca pengalaman banyak solo traveler, aku menyadari bahwa bepergian sendirian memang memiliki tantangannya tersendiri. Namun, bukan berarti otomatis berbahaya.
Faktanya, setiap perjalanan selalu punya risiko. Mau itu sendirian atau bareng teman dan keluarga.
Kita bisa saja mengalami kendala saat bepergian bersama teman, keluarga, atau bahkan dalam rombongan besar. Terus apa bedanya?
Yang membuat perbedaan adalah persiapan yang kita lakukan sebelum berangkat, misalnya:
- Cari informasi tentang destinasi wisata yang akan kita kunjungi.
- Pilih penginapan yang ulasannya baik.
- Simpan kontak darurat.
- Bagikan itinerary hanya pada keluarga dan orang kepercayaan.
- Dan beberapa langkah sederhana lainnya yang bisa bikin perjalanan terasa lebih aman.
Banyak lho solo traveler justru jadi lebih waspada karena mereka sadar harus mengandalkan diri sendiri selama perjalanan.
Jadi, alih-alih melihat solo traveling sebagai aktivitas yang pasti berbahaya, mungkin lebih tepat jika kita melihatnya sebagai perjalanan yang butuh persiapan dan kewaspadaan ekstra.
Setuju nggak, Sobat Filia?
Mitos 2: Solo Traveling Pasti Kesepian

Ini mungkin kekhawatiran saat pergi liburan sendirian yang paling mudah kalian pahami.
Mau gimana juga, liburan sering digambarkan sebagai momen untuk bersenang-senang bareng orang lain. Kita terbiasa melihat foto-foto perjalanan yang penuh tawa, makan bersama, atau berfoto rame-rame di tempat wisata.
Oleh karena itu, saat membayangkan solo traveling, banyak orang, termasuk aku, langsung berpikir tentang kesepian.
Kayak, harus makan sendirian, jalan-jalan sendirian, dan menikmati pemandangan tanpa ada orang yang bisa kuajak berbagi cerita saat itu juga.
Nggak heran kalau sebagian orang menganggap solo traveling pasti terasa sepi dan membosankan.
Faktanya, Kesepian dan Menikmati Waktu Sendiri Itu Berbeda
Yang baru kusadari kemudian adalah bahwa kesepian dan menikmati waktu sendiri ternyata bukan hal yang sama.
Saat solo traveling, memang nggak ada teman yang selalu menemani. Namun justru karena itu, kita jadi punya kebebasan penuh buat menjalani perjalanan sesuai keinginan sendiri.
Mau duduk lebih lama di sebuah kafe? Nggak perlu menyesuaikan dengan orang lain.
Mau menghabiskan satu jam hanya untuk menikmati pemandangan? Nggak ada yang buru-buru mengajak pindah lokasi.
Selain itu, bepergian sendirian sering bikin seseorang lebih terbuka terhadap lingkungan sekitar.
Banyak kok solo traveler yang akhirnya bisa ngobrol sama sesama wisatawan, pemilik penginapan, atau penduduk lokal yang mereka temui di perjalanan.
Tentu saja, ada kalanya rasa sepi muncul. Itu hal yang wajar. Namun dalam banyak kasus, pengalaman solo traveling justru membantu seseorang untuk belajar menikmati kebersamaan dengan dirinya sendiri.
Lagian, salah satu manfaat solo traveling yang pernah kutulis di artikel sebelumnya ada yang mengatasi ketakutan kok. Jadi, sesekali bisa lho coba bepergian sendirian!
Mitos 3: Solo Traveling Lebih Mahal
Alasannya sederhana. Kalau pergi bersama teman, biaya hotel bisa dibagi. Biaya transportasi tertentu juga bisa ditanggung bersama. Jadi sekilas terlihat bahwa solo traveling pasti lebih boros.
Logika ini memang nggak sepenuhnya salah.
Karena itulah, banyak orang, termasuk aku, beranggapan kalau solo traveling butuh budget yang lebih besar ketimbang liburan bersama rombongan.
Faktanya, Biaya Perjalanan Bergantung pada Gaya Traveling
Setelah melihat berbagai pengalaman traveler, aku menyadari bahwa mahal atau nggaknya perjalanan ternyata lebih dipengaruhi oleh gaya traveling masing-masing.
Saat bepergian sendirian, kita punya kendali penuh terhadap anggaran yang akan kita gunakan.
Bebas memilih penginapan sesuai budget, menentukan tempat makan yang nyaman di kantong, dan menyusun itinerary tanpa harus mengikuti preferensi orang lain.
Bahkan dalam beberapa kondisi, solo traveling bisa bikin pengeluaran lebih terkontrol karena semua keputusan berada di tangan kita sendiri.
Kalau ingin berhemat, kita bisa langsung menyesuaikan rencana tanpa perlu mempertimbangkan keinginan anggota rombongan lainnya.
Jadi menurutku, solo traveling nggak selalu lebih mahal. Semuanya kembali pada gimana kita mengatur perjalanan dan anggaran. Setuju nggak, Sobat Filia?
Mitos 4: Solo Traveling Hanya Cocok untuk Orang yang Berani

Dulu aku sering membayangkan bahwa solo traveler adalah orang-orang yang pemberani sejak lahir.
Mereka terlihat percaya diri, santai menghadapi situasi baru, dan seolah nggak pernah merasa takut.
Sementara itu, banyak orang biasa seperti aku yang malah sering merasa gugup bahkan sebelum perjalanan dimulai.
Akibatnya, muncul anggapan bahwa solo traveling hanya cocok untuk mereka yang punya mental petualang dan keberanian luar biasa. Yang gampang jiper mah ke laut aja, begitu pikirku.
Faktanya, Banyak Solo Traveler Berangkat Meski Awalnya Takut
Yang menarik, ternyata banyak solo traveler mengaku sempat merasa takut sebelum perjalanan pertama mereka. See!
Mereka juga takut tersesat. Takut salah naik kendaraan. Takut menghadapi masalah sendirian. Juga takut merasa bingung di tempat yang benar-benar baru.
Perasaan-perasaan itu ternyata sangat normal. Bukan sesuatu yang harus menghambat keinginan kita untuk pergi berlibur sendirian.
Yang bikin semuanya berbeda tuh bukan karena mereka jadi nggak takut. Tapi, mereka memutuskan tetap pergi liburan sendirian meski rasa takutnya masih ada.
Dari situ aku belajar bahwa keberanian bukan berarti nggak punya rasa takut. Keberanian sering berarti tetap melangkah meski belum merasa sepenuhnya siap.
Mitos 5: Solo Traveling Itu Ribet karena Semua Harus Diurus Sendiri
Kalau yang satu ini sih, kayaknya aku cukup paham kenapa banyak orang mempercayainya.
Saat bepergian bareng teman, biasanya tugas bisa dibagi-bagi. Ada yang cari hotel, ada yang mengatur transportasi, dan ada yang bikin itinerary liburannya.
Intinya, kita nggak ribet mengatur semua sendirian.
Beda cerita kalau solo traveling. Apa-apa kita urusin sendiri. Kayak, semua tanggung jawab selama liburan otomatis ada di tangan kita sendiri.
Membayangkannya saja, sudah bikin aku merasa kelelahan, Sob.
Faktanya, Teknologi Bikin Banyak Hal Jadi Lebih Praktis
Untungnya, sekarang kita hidup di era yang serba digital. Banyak hal yang dulu terasa rumit kini bisa kulakukan hanya lewat ponsel. You name it:
- Cari rute perjalanan bisa menggunakan aplikasi peta.
- Pesan hotel dan tiket transportasi bisa kulakukan secara online.
- Bahkan Cari rekomendasi tempat makan atau destinasi wisata pun cuma butuh beberapa menit.
Belum lagi, banyak blog traveling dan forum perjalanan yang membagikan informasi secara lengkap. Malah kalau kita beruntung, kita bisa seolah ikut liburan hanya dengan membaca dan melihat ulasan mereka.
Karena itulah, keribetan yang sering dibayangkan banyak orang biasanya nggak sebesar kenyataannya.
Memang benar, ada proses perencanaan yang perlu kita lakukan sendiri, tapi bukannya justru itu yang bikin liburan sendirian tuh seru dan menyenangkan ya?
Mitos 6: Perempuan Nggak Cocok Solo Traveling

Sebagai perempuan, aku cukup sering mendengar anggapan ini. Dan aku merasa sebel karenanya.
Ada yang khawatir soal keamanan. Ada juga yang berpendapat bahwa perempuan sebaiknya nggak bepergian sendirian. Mungkin niatnya baik karena ingin mengingatkan agar lebih berhati-hati.
Namun jika terlalu sering mendengarnya, lama-lama muncul kesan bahwa solo traveling adalah sesuatu yang nggak mungkin dilakukan oleh perempuan.
Faktanya, Perempuan Juga Bisa Menikmati Solo Traveling dengan Aman
Saat mencari referensi tentang solo traveling, aku justru menemukan banyak cerita dari perempuan yang bepergian sendirian ke berbagai kota dan negara.
Tentu saja mereka nggak berangkat dadakan tanpa persiapan.
Mereka mencari informasi tentang destinasi, memilih penginapan yang aman, paham budaya setempat, dan tetap menjaga kewaspadaan selama perjalanan.
Hal-hal tersebut sebenarnya bukan hanya berlaku bagi perempuan, tapi juga bagi siapa saja yang sedang bepergian. Iya nggak sih?
Oleh karena itu, menurutku fokusnya bukan pada apakah perempuan boleh melakukan solo traveling atau nggak.
Yang lebih penting adalah gimana mempersiapkan diri dengan baik biar perjalanan bisa berlangsung lebih nyaman dan aman.
Mitos 7: Harus Pergi Jauh atau ke Luar Negeri untuk Disebut Solo Traveling
Entah kenapa, banyak konten solo traveling yang menampilkan perjalanan ke luar negeri atau destinasi yang sangat jauh.
Akibatnya, muncul anggapan bahwa solo traveling harus selalu terlihat spektakuler.
Kalau hanya pergi ke kota sebelah atau melakukan perjalanan singkat, rasanya kayak belum cukup “sah” untuk disebut solo traveling.
Faktanya, Perjalanan Dekat Rumah Pun Tetap Bisa Jadi Solo Traveling
Sobat Filia tahu nggak sih? Inti dari solo traveling bukan soal jaraknya, tapi pengalaman bepergian seorang diri.
Kalau kalian pergi sendirian ke kota tetangga untuk menghabiskan akhir pekan. Itu sudah termasuk solo traveling kok.
Atau, kalau kalian melakukan one day trip ke tempat yang belum pernah kalian kunjungi sebelumnya. Itu juga bisa menjadi pengalaman solo traveling.
Bahkan, staycation sendirian di dalam kota pun bisa jadi langkah awal yang menyenangkan.
Menurutku, perjalanan kecil kayak gini justru cocok untuk pemula. Selain lebih hemat dan minim risiko, pengalaman tersebut bisa bantu untuk membangun rasa percaya diri sebelum mencoba perjalanan yang lebih jauh.
Solo Traveling Nggak Harus Sesempurna yang Dibayangkan
Setelah melihat berbagai mitos di atas, aku makin yakin bahwa banyak ketakutan tentang solo traveling sebenarnya berasal dari asumsi yang belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Solo traveling memang punya tantangan tersendiri. Akan ada momen bingung, gugup, atau bahkan merasa nggak nyaman. Namun, itu nggak berarti pengalaman tersebut pasti buruk.
Sering kali, hal yang paling menakutkan justru terjadi sebelum perjalanan dimulai. Yaitu saat kita terlalu banyak membayangkan kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.
Soalnya, pada akhirnya, solo traveling bukan tentang menjadi orang yang paling berani atau paling mandiri.
Kadang, solo traveling hanya tentang memberi diri sendiri kesempatan untuk mencoba sesuatu yang baru.
Dan siapa tahu, perjalanan yang awalnya terasa menakutkan justru menjadi cerita yang paling berkesan untuk dikenang nanti.
Gimana menurut Sobat Filia? Ada nggak sih mitos solo traveling yang pernah bikin kalian gagal melakukan perjalanan yang belum kusebutkan di sini? Share di kolom komentar ya!