Ngomongin financial freedom tuh salah satunya berkaitan sama perlindungan diri. Asuransi. Pertanyaannya adalah ibu rumah tangga butuh asuransi apa saja?
Menghadapi pertanyaan kayak gini, banyak ibu-ibu yang mikir kalau mereka nggak butuh asuransi. Toh mereka cuma di rumah saja. Mending duitnya buat kebutuhan keluarga.
Kalau pun beli asuransi tambahan, yang lebih butuh mah orang yang bekerja. Contoh, suami. Atau anaklah. Ibu rumah tangga yang sehari-hari di rumah nanti dulu. Manfaatkan yang ada saja.
Eh Esmeralda, meski cuma di rumah doang, kerjaan emakmu banyak ya. Mending kalau anak dan suaminya mau bantu-bantu. Lha, yang ada kebanyakan malah sok jadi raja, prince, dan princess gitu kok.
Emang kalian nggak pernah kepikiran kalau suatu hari nanti emak kalian nggak bisa ngapa-ngapain. Masak, beres-beres rumah, mengurus anak kudu ada yang bantuin. Gimana dong?
Ibu rumah tangga memang nggak punya gaji. Tapi, mereka bukannya nggak punya faktor risiko finansial.
Ibu Rumah Tangga Tetap Punya Nilai Ekonomi

Menurutku, selama ini tuh kalian saja yang nggak mau lihat seberapa banyaknya kerjaan ibu rumah tangga. Coba deh sekali saja kalian alihkan semua pekerjaan itu ke orang lain. Berapa banyak duit yang bakalan kalian habiskan?
Masak. Jelas kalian harus bayar chef. Sekalipun skalanya rumah tangga, mereka nggak akan sudi cuma kalian bayar pake ucapan terima kasih doang lho, Sobat Filia.
Pengasuhan anak. Semisal kalian sibuk kerja pun kalian butuh jasa penitipan anak. Udah berapa duit kalian yang keluarkan?
Masih belum soal laundry, beres-beres rumah, dan lain-lain tuh. Kaum mendang-mending pasti puyeng menghitung kebutuhan biaya semua pekerjaan ibu yang harus dialihkan ke orang lain.
Kebayang dong kalau semisal ibu rumah tangga sakit cukup lama. Dampaknya nggak hanya tentang biaya berobat. Ada biaya nggak langsung yang ikut-ikutan muncul.
Gimana dong? Meski ibu sakit, keluarga tetap butuh makan. Kalau nggak ada yang mau gantian masak ya terpaksa beli. Makin boros ‘kan, Sobat Filia.
Makanya kubilang juga apa. Meski nggak punya slip gaji, yang namanya ibu rumah tangga tetap punya nilai ekonomi. Rasanya nggak berlebihan kalau ibu rumah tangga butuh asuransi.
Kita nggak lagi berpikir negatif atau berharap sesuatu yang buruk akan terjadi. Menurutku malah sebaliknya. Anggap saja, kita lagi menyiapkan keluarga biar selalu siap meski kehidupan nggak berjalan sesuai rencana.
Lalu, Asuransi Apa yang Penting untuk Ibu Rumah Tangga?
Menurutku, memilih jenis asuransi untuk ibu rumah tangga memang perlu hati-hati. Kita nggak bisa menyamakan satu keluarga dengan keluarga lainnya.
Kemampuan finansial setiap keluarga beda-beda. Termasuk, kebutuhan atau lifestyle keluarga juga nggak sama.
Keluarga yang punya finansial bagus, tentu nggak akan masalah meski punya semua jenis asuransi untuk ibu rumah tangga. Beda cerita sama keluarga yang finansialnya kurang bagus.
Kak Alienda Sophia, seorang lifestyle blogger, pernah menuliskan gimana mengatur uang di usia 30an akhir di blognya. Tulisan ini mengingatkanku bahwa urusan keuangan tergantung sama apa yang menjadi prioritas keluarga.
Begitu juga dengan asuransi untuk ibu rumah tangga. Kalau nggak bisa membeli semua jenis asuransi, seenggaknya pertimbangkan beberapa jenis perlindungan sebagai berikut:
1. Asuransi Kesehatan
Urusan kesehatan memang paling utama. Kalian pasti juga sudah pernah mendengar kalau ibu nggak boleh sakit. Sekalinya ibu sakit, maka urusan rumah tangga bakal keteteran.
Sayangnya, sakit bisa datang kapan saja. Mana biaya perawatan kesehatan cenderung terus meningkat dari waktu ke waktu.
Belum lagi, kalau memikirkan biayanya, kebanyakan ibu malah suka memaksakan diri. Sudah tahu sakit, bukannya istirahat malah dibawa mengerjakan urusan domestik.
Pake bilang kalau cuma rebahan malah tambah sakit pula. Semuanya itu ya demi menghemat pengeluaran. Hayo lho, siapa yang relate?
Makanya, biar pas ibu rumah tangga nggak terlalu terbebani sama biaya perawatan, mending punya asuransi kesehatan. Toh kalau cuma buat perlindungan dasar bisa pake asuransi dari pemerintah.
Semisal kondisi keuangan dalam keluarga sudah memungkinkan dan memang butuh manfaat tambahan, gaskeun lah beli asuransi kesehatan swasta.
Saranku ya, Sobat Filia jangan cuma melihat premi bulanannya doang. Lihat juga manfaat yang diberikan, batas pertanggungan, jaringan rumah sakit, ketentuan klaim, masa tunggu, dan pengecualian dalam polis.
Mau gimana lagi? Asuransi ‘kan nggak cuma sebatas harus bayar setiap bulan untuk kemudian pasti bisa kita manfaatkan pas sakit. Lebih dari itu, ada ketentuan yang harus kita pahami sejak awal.
2. Asuransi Jiwa
Untuk apa ibu rumah tangga butuh asuransi jiwa? ‘Kan sebagian besar waktunya ada di rumah doang. Mending pencari nafkah saja sih yang punya asuransi jiwa.
Boro-boro pas ibu meninggal. Pergi belanja bentar doang, kalian sudah kelimpungan mencari ibu. Benar nggak?
See! Meski ibu nggak punya gaji, aku pikir ibu tetap butuh asuransi jiwa.
Bukan untuk menggantikan sumber pemasukan dalam keluarga saat ibu meninggal. Tapi, seenggaknya memberi konsekuensi finansial yang mungkin muncul saat ibu berpulang.
Biar gimana juga. Semua urusan kerjaan domestik keluarga tetap harus berjalan.
Dampaknya, mungkin suami harus mengurangi waktu bekerjanya untuk menggantikan fungsi ibu. Kalau nggak gitu, keluarga perlu mengeluarkan biaya untuk urusan domestik rumah tangga.
Tentu saja, kebutuhannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan finansial masing-masing keluarga ya, Sobat Filia.
3. Asuransi Penyakit Kritis
Jenis perlindungan ini juga bisa kita pertimbangkan. Apalagi kalau kondisi finansial keluarga sudah cukup siap.
Beda sama asuransi kesehatan yang biasanya berkaitan dengan biaya perawatan sesuai ketentuan polis, asuransi penyakit kritis bisa kasih manfaat saat tertanggung didiagnosis penyakit tertentu yang tercantum dalam polis.
Sepenting itukah ibu rumah tangga punya asuransi penyakit kritis?
Gambarannya begini, penyakit serius tuh nggak hanya butuh biaya pengobatan yang lumayan banyak. Selain itu, ibu juga mungkin harus bed rest total.
Nggak bisa ngapa-ngapain. Malah mungkin butuh bantuan orang lain untuk keperluannya sendiri.
Dampaknya jelas. Keluarga akan butuh biaya tambahan. Untuk pengobatan penyakit kritis ibu dan biaya pengganti pekerjaan yang biasa dilakukannya.
4. Asuransi Kecelakaan Diri
Sepele ya. Kayak ibu rumah tangga ‘kan risiko terjadi kecelakaannya bisa dibilang rendah. Kenapa masih butuh asuransi kecelakaan diri coba?
Maksudku nggak yang harus punya asuransi kecelakaan diri. Tapi, minimal ya pertimbangkan saja dulu.
Apalagi kalau ibu rumah tangga punya mobilitas yang tinggi. Misal antar-jemput anak sekolah, belanja, bekerja freelance, dan aktivitas apapun yang butuh naik kendaraan sendiri.
Paling nggak ada perlindungan saat benar-benar terjadi kecelakaan. Iya nggak sih, Sobat Filia?
Tapi ya gitu. Kalian tetap harus cek manfaat dan pengecualiannya sebelum membeli ya. Soalnya, murah doang mah belum tentu paling sesuai dengan kebutuhan.
Kalau Punya Budget Terbatas, Apa Harus Punya Semua?
Nggak harus ya. Lihat kondisi finansial keluarga juga. Kalau emang belum memungkinkan, nggak usah maksa beli banyak polis asuransi.
Maksudku, jangan sampai premi yang harus kita bayar setiap bulannya malah bikin kebutuhan rumah tangga terganggu.
Saranku, mending punya perlindungan sederhana dulu, kayak perlindungan kesehatan dasar. Sambil lalu, siapkan dana darurat keluarga.
Begitu kondisi finansial keluarga lebih siap, baru deh tuh pertimbangkan perlindungan lainnya.
Ingat ya! Tujuan asuransi bukan bikin kondisi finansial keluarga makin berat, tapi bantu mengelola risiko finansial.
Terus, Gimana sama Asuransi Pendidikan Anak?
Terdengar seperti solusi untuk masa depan anak ya. Sebagai seorang ibu, kita pasti ingin menyiapkan yang terbaik untuk anak sedini mungkin.
Urusan pendidikan anak tentu butuh biaya yang nggak sedikit. Entah itu, biaya sekolah, uang pangkal, biaya bulanan, belum kalau misalnya anak masuk asrama, kuliahnya, dan lain-lain.
Tapi menurutku, ibu rumah tangga nggak otomatis harus punya asuransi pendidikan sih. Yang lebih penting justru perencanaan dana pendidikan anak.
Nggak harus dengan asuransi kok. Ada banyak cara menyiapkan dana pendidikan anak. Tinggal sesuaikan saja dengan tujuan, jangka waktu, kemampuan finansial, dan profil risiko keluarga.
Maksudku, jangan membeli produk cuma karena namanya terdengar kayak solusi untuk pendidikan anak.
Pelajari saja dulu gimana manfaatnya, kapan uang dibayarkan, apa saja risikonya, gimana ketentuan jika polis dihentikan, dan apakah produknya benar-benar sesuai dengan tujuan kita.
Jadi, Ibu Rumah Tangga Perlu Asuransi Nggak?
Bisa jadi perlu. Memang ibu rumah tangga nggak punya slip gaji. Tapi, peran ibu dalam keluarga sangat besar. Sering kali nggak kehitung dalam bentuk rupiah.
Cuma urusan domestik keluarga bakal runyam kalau sampai ibu sakit. Belum lagi, keluarga harus mengeluarkan uang buat gantikan pekerjaan yang biasa ibu lakukan secara gratis.
Makanya, kataku sih nggak ada salahnya kok mempertimbangkan untuk menambahkan perlindungan ibu rumah tangga dalam perencanaan keuangan keluarga.
Nggak harus langsung punya banyak asuransi. Nggak harus memilih produk yang preminya mahal juga. Yang penting, kalian paham risiko yang paling mungkin berdampak besar pada keluarga.
Soalnya, asuransi bukan tentang berharap sesuatu yang buruk terjadi. Tapi, mempersiapkan diri kalau suatu hari nanti hidup memutuskan untuk memberi kejutan yang nggak kita inginkan.