Banner Covert Selling

Covert Selling untuk Iklan di Media Sosial

Banner Covert Selling

Covert Selling untuk Iklan di Sosial Media – Hai Sahabat Filia, bete nggak sih, kalau pas buka akun media sosial langsung disuguhi dengan iklan,

Minat? Chat no ini 081357191***

Atau

Rp. 1.***.***, Minat langsung chat 081357191***

diikuti gambar produk yang banyak banget.

Kalau Yuni yang ditanya sih, jelas aja. Yuni bete maksimal. Otomatis Yuni skip tu iklan-iklan yang begitu. Tapi, nggak sampai pencet tombol blokir kok meski rasanya mengganggu banget. Hehe..

“Terus Yun, kalau nggak begitu, kita mau iklan di media sosialnya gimana dong? Hari gini ‘kan udah lumrah banget kalau kita jualan dalam jaringan (daring).”

Iya. Yuni paham kok masalah itu. Media sosial sudah biasa dibuat sebagai ajang jualan. Kalau nggak percaya coba deh baca postingan Yuni yang ini

Berjualan Daring di Media Sosial? Siapa Takut?

Nah, disitu Yuni juga cerita kok, kalau sah-sah saja jualan daring. Tapi ada caranya dong. Salah satunya pakai iklan yang nggak ketahuan kalau kita ngiklan.

“Lho, ada gitu? Gimana caranya?”

Pasti adalah ya caranya ngiklan tapi nggak ketahuan kalau kita lagi ngiklan. Atau sebenarnya mereka tahu, tapi saking asyiknya baca sampai nggak terasa kalau dia sedang baca iklan.

“Ih, penasaran deh Yun. Teknik apaan yang bisa begitu?”

Buat Sahabat Filia yang penasaran, tenang aja! Yuni akan ceritakan salah satu cara asyik jualan di Media Sosial. Namanya Covert Selling (CS).

Apa itu CS?

Menurut buku yang Yuni baca (duh, keinget sama dialog dalam sinetron jadul nggak sih ini?), CS sering disebut dengan “ilmu ghaib”. Nah lho, mistis dong?

Ini lebih dari sekedar mistis. Ceileh, nggak lah ya. Jadi, sebenarnya CS adalah teknik iklan yang nggak tampak wujud menjualnya. Sama kan dengan hal ghaib, nggak tampak wujudnya. Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah gimana mereka tahu kalau kita sedang jualan sedangkan iklan kita nggak seperti orang jualan?

Kalau kata ki Jenderal Nasution, penulis buku Mantra Covert Selling, CS itu diibaratkan sebagai kentut. Kita nggak pernah liat wujudnya kentut itu gimana. Tapi anehnya, kita bisa tahu ada seseorang yang melepas gas itu, entah dari suara ataupun baunya. Benar ‘kan?

Intinya dalam CS, kita hanya fokus pada kualitas iklan yang kita buat. Selain itu, dalam teknik CS ini, haram hukumnya memasukkan unsur penawaran, ajakan atau perintah membeli. Lha terus gimana dong? Kemon kita lanjut ke pembahasan selanjutnya dulu.

Mengapa Menggunakan CS

Yuni kasih bocoran ya Sahabat Filia. Nggak semua orang itu suka ditawarin dagangan. Apalagi di medsos yang notabene adalah tempatnya sapa teman sana-sini. Kebanyakan malah, pengguna medsos itu memakai akun mereka untuk sharing aktivitas sehari-hari, pamer bagi yang suka pamer bahkan gosip juga banyak tu di medsos. Baru-baru ini misalnya, pengguna medsos pada main layangan putus atau main peran jadi nahkoda kapal pecah. Duh, apa banget ya permisalan Yuni. Tolong abaikan saja. Hehe…

Di awal tadi pun sudah Yuni singgung, iklan secara langsung itu bikin Yuni bete. Dan pasti bukan cuma Yuni ‘kan yang terganggu sama iklan-iklan itu. Salah satu atau salah dua di antara kalian pasti ada juga yang merasakannya. Ngaku aja sih. Nggak dosa ini. Hahay…

Nah inilah pentingnya ngiklan pakai CS. Orang-orang nggak akan menyadari kalau dia lagi baca iklan di postingan kita. Bahkan kalau kita sudah expert dalam CS ini, orang yang awalnya nggak butuh produk kita, bisa jadi tiba-tiba pingin beli. Karena apa? Karena tulisan kita yang sebenarnya mengandung iklan itu benar-benar meyakinkan mereka untuk memiliki dan atau menggunakan produk kita.

Tuh, tulisan seperti itu yang keren. Alih-alih nawarin dagangan dengan brutal di media sosial, kenapa kita nggak mempelajari CS ini saja, Sahabat Filia?

Memerangkap Customer dengan CS

Setelah tahu, apa sih pentingnya kita iklan pakai CS di medsos, sekarang kita cuap-cuap sedikit gimana sih menerapkan CS dalam postingan jualan kita. Sebenarnya Yuni bukan mastahnya ya. Cuma kebetulan saja Yuni punya buku Mantra Covert Selling tulisan Ki Jenderal Nasution. Jadi, boleh dong, Yuni bagi di sini? Uhuk,,uhuk,,

Sahabat Filia, jualan itu bukan sesuatu yang instant mendatangkan sejuta pembeli. Selalu ada proses di setiap hal. Kalau kata sang master closing Ken, mau makan mie instant saja kita mesti masak air dulu ye ‘kan?

Nah, dalam bukunya, Ki Jenderal Nasution menyebutkan ada tiga fase yang kita lalui sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu. Apa saja fasenya?

Think

Penjual yang besar itu juga tidak serta merta mendapatkan banyak pembeli dalam sehari. Mereka juga mengawali di titik nol, dimana belum ada yang menyadari mereka ada. Pada tahap awal ini, coba untuk membuat sebuah iklan yang membuat teman-teman dalam list pertemanan di media sosial kalian (bolehlah kalau kemudian kalian ingin menyebut mereka sebagai calon pembeli) menyadari bahwa produk kalian itu ada.

Seperti apa contohnya? Begini,

Banner Covert Selling Bahs

Postingan kayak begitu, seenggaknya akan membuat mereka sadar, oh ada juga jilbab model simple begitu. Lalu, apakah mereka akan langsung beli? Belum tentu. Terus, gimana? Paling nggak, mereka akan mencoba mencari tahu tentang jilbab yang mereka lihat dalam postingan kita dong. Nah, tugas kita selanjutnya adalah membuat mereka mengerti tentang jilbab itu. Keistimewaan sampai detailnya lah. Edukasi begitulah.

Feel

Begitu mereka menyadari dan mengerti semua hal tentang jilbab yang kita tunjukkan, mereka akan memulai pada tahap selanjutnya. Suka atau nggak. Sampai kemudian jatuh cinta pada jilbab itu. Tentu saja kita akan membuat postingan-postingan tentang produk kita yang semakin meningkatkan perasaan calon pembeli (dalam hal ini teman-teman kita di medsos). Yang jelas, postingan-postingan itu harus jauh-jauh dari hal yang diharamkan dalam CS ya, Sahabat Filia. Tahu dong apa saja yang diharamkan? ‘Kan tadi sudah kita sebutkan. Hehe…

Do

Setelah mereka benar-benar naksir, pada akhirnya mereka akan melakukan pembelian bukan. Dan terperangkaplah para customer itu dalam pesona jilbab yang kalian jual. Mudah kan sebenarnya? Hal ini menjadi sulit karena belum apa-apa, kita sudah menyerah sambil bilang, “aku tu nggak bisa jualan.”

Sebenarnya masih banyak hal yang Ki Jenderal Nasution tulisankan dalam bukunya. Ibarat kata, apa yang aku bagi ini baru pendahuluannya saja. Kulit luarnya doang. Tapi nggak pa-pa. Setidaknya, kita sedikit memahami apa itu CS. Betul kan? Jadi Sahabat Filia, kalau kalian memutuskan untuk berjualan daring di medsos, please, jangan brutal menawarkan dagangan. Ingat, fungsi medsos itu sendiri beda dengan market place. Kalau di market place mah kalian bebas menawarkan dagangan sebanyak-banyaknya. Nggak ada yang akan terganggu.

With Love

My Another Blog

15 comments

  1. Wah, ilmu baru nih. Pantesan kalau aku jualan ga laku-laku, ternyata cara promonya bikin orang bete duluan. Hahaha. Makasih sharingnya mbak. Bermanfaat banget nih.

    1. Kadang-kadang malah ada yang sengaja skip dagangan duluan, Mbak. Syukur-syukur kalau kitanya nggak diblock sama pembaca gegara postingannya dagangan dengan membabi buta. HEhehehe

  2. Wah pengen langsung aku praktekin rasa metode CS gini sekalian rasanya pengen beli bukunya hahaha. Soalnya sebagai blogger butuh ilmu ini banget. Soalnya blogger kan suka ngiklan juga. Mu di instagram atau di blog.

  3. Memang lebih menyenangkan membaca iklan yang bercovert selling sih ya daripada ya to the point aja karena cenderung seperti ditodong.

    Kecuali nih, buat orang-orang yang memang sudah rutin membeli atau butuh banget produk yang dimaksud saat itu juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *